National Geographic POD

Rabu, 26 September 2012

Trs: (e-RH) Juli 09 -- KETETAPAN ALLAH



----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Kepada: e-RH <i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Dikirim: Minggu, 8 Juli 2012 22:10
Judul: (e-RH) Juli 09 -- KETETAPAN ALLAH

e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                          e-Renungan Harian
    Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Senin, 9 Juli 2012
Bacaan : Yesaya 46:9-13
Setahun: Yesaya 5-8
Nats: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan
      Kulaksanakan (Yesaya 46:10)

Judul:

                          KETETAPAN ALLAH

  Pernahkah Anda berjumpa dengan orang yang plin plan? Pada saat
  tertentu, ia berkata dengan penuh keyakinan bahwa ia hendak
  melakukan sesuatu. Kesempatan lainnya, ia mengurungkan niatnya
  sendiri. Pepatah "bagai air di daun talas" tepat untuk menggambarkan
  orang plin plan. Butir air di daun talas bisa bergerak kemana-mana
  karena tidak bisa menempel di permukaan daun yang licin itu.
  Demikianlah orang plin plan yang terus berubah-ubah dalam pendirian
  dan perkataannya.


  Allah kita bukanlah Pribadi yang plin plan. Firman Tuhan hari ini
  mengajarkan doktrin tentang ketetapan Allah (God's decree).
  Ketetapan Allah tidak berubah sepanjang waktu. Allah tidak pernah
  membetulkan atau membatalkan ketetapan-Nya. Ketetapan Allah pasti
  terlaksana sesuai dengan kedaulatan-Nya (ayat 10- 11). Ketetapan
  Allah juga termasuk hal-hal tidak menyenangkan yang ditujukan untuk
  mendisiplin umat-Nya (ayat 11). Akhirnya, keselamatan umat-Nya
  adalah bagian dari ketetapan-Nya (ayat 13). Kebenaran yang terakhir
  ini sangat menguatkan karena artinya keselamatan kita bersifat
  pasti. Tidak ada yang dapat menghilangkan anugerah keselamatan dari
  Allah bagi kita.


  Apakah saat ini Anda sedang dirundung keraguan atas rencana- Nya
  dalam hidup Anda? Apakah Anda sedang mengalami kehilangan keyakinan
  atas keselamatan Anda? Firman Tuhan hari ini kiranya meneguhkan Anda
  lagi. Allah yang mengasihi kita bukanlah Allah yang plin plan.
  Ketetapan Allah sesungguhnya mencerminkan karakter Allah sendiri.
  Ketetapan Allah sepasti karakter Allah! Dalam keteguhan itu, kita
  pun beroleh keberanian untuk terus menaati firman-Nya dalam situasi
  yang paling tidak pasti. --JIM

    KETETAPAN ALLAH ADALAH JANGKAR YANG KUAT BAGI PERAHU IMAN KITA
                  DI TENGAH SERANGAN OMBAK KERAGUAN.

e-RH Situs:  http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2012-07-09
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2012/07/09/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
        http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2012/07/09/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab:                http://alkitab.sabda.org/?Yesaya+46:9-13

  Yesaya 46:9-13

  9  Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya
      Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada
      yang seperti Aku,
  10  yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari
      zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata:
      Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan
      Kulaksanakan,
  11  yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang
      melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah
      mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah
      merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.
  12  Dengarkanlah Aku hai orang-orang yang congkak, orang-orang yang
      jauh dari kebenaran:
  13  Keselamatan yang dari pada-Ku tidak jauh lagi, sebab Aku telah
      mendekatkannya dan kelepasan yang Kuberikan tidak bertangguh
      lagi; Aku akan memberikan kelepasan di Sion dan keagungan-Ku
      kepada Israel."

Bacaan Alkitab Setahun:
        http://alkitab.sabda.org/?Yesaya+5-8
Mobile: http://alkitab.mobi/tb/passage/Yesaya+5-8


e-RH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
                Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
          Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria


Kamis, 13 September 2012

Trs: (e-RH) September 11 -- BUKTI IMAN



----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Kepada: e-RH <i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Dikirim: Senin, 10 September 2012 22:10
Judul: (e-RH) September 11 -- BUKTI IMAN

e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                          e-Renungan Harian
    Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Selasa, 11 September 2012
Bacaan : Yakobus 2:13-26
Setahun: Yoel
Nats: Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan,
      bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?
      Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14)

Judul:

                              BUKTI IMAN

  Kita, sebagai orang kristiani yakin bahwa kita tidak bisa
  dilahirkan kembali atau diselamatkan oleh karena perbuatan. Kita
  hanya bisa diselamatkan melalui iman kepada Yesus, Tuhan dan Juru
  Selamat kita. Tetapi mungkin kemudian muncul pertanyaan, "Bagaimana
  saya bisa tahu bahwa saya atau seseorang sudah mengalami kelahiran
  kembali?" Adakah bukti yang dapat terlihat secara nyata?


  Yakobus memberi jawaban yang tepat. Kalau kita mencoba mencari bukti
  dari iman seseorang, perhatikanlah perbuatannya. Apa yang diperbuat
  seseorang mencerminkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Jika
  tutur lakunya sama sekali tidak mencerminkan orang yang sudah
  diselamatkan, imannya patut dipertanyakan (ayat 15-17). Yakobus
  memberi contoh tentang Abraham dan Rahab. Kita tidak bisa membaca
  pikiran dan hati mereka, tetapi bisa melihat bahwa mereka memercayai
  Allah melalui perbuatan mereka. Abraham rela mempersembahkan anaknya
  kepada Allah, Rahab mempertaruhkan nyawa untuk menyembunyikan
  mata-mata umat Allah (ayat 21, 25).


  Adalah wajar kalau kita sendiri atau seseorang meragukan iman kita
  karena menemukan tindakan kita yang tidak menunjukkan buah
  pertobatan. Kalau kita secara konsisten berkanjang dalam dosa dan
  tidak merasa resah dengan ketidaktaatan kita, maka kita perlu
  waspada. Bandingkanlah bagaimana tutur laku dan kebiasaan-kebiasaan
  kita sebelum dan sesudah menerima Kristus. Perbuatan-perbuatan apa
  saja yang menunjukkan bahwa kita telah diselamatkan dan diubahkan
  oleh kasih karunia Kristus? --BWA

        HANYA OLEH KARENA IMAN SESEORANG DAPAT DISELAMATKAN.
HANYA MELALUI KETAATAN KEPADA ALLAH IMAN SESEORANG DAPAT DIBUKTIKAN.

e-RH Situs:  http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2012-09-11
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2012/09/11/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
        http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2012/09/11/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab:                http://alkitab.sabda.org/?Yakobus+2:13-26

  Yakobus 2:13-26

  13  Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas
      orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan
      menang atas penghakiman.
  14  Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan,
      bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?
      Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
  15  Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan
      kekurangan makanan sehari-hari,
  16  dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah
      kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak
      memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah
      gunanya itu?
  17  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai
      perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
  18  Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku
      ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku
      imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu
      imanku dari perbuatan-perbuatanku."
  19  Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!
      Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka
      gemetar.
  20  Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa
      iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
  21  Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena
      perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak,
      anaknya, di atas mezbah?
  22  Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan
      dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
  23  Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu
      percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal
      itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut:
      "Sahabat Allah."
  24  Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena
      perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
  25  Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena
      perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang
      yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos
      melalui jalan yang lain?
  26  Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman
      tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Bacaan Alkitab Setahun:
        http://alkitab.sabda.org/?Yoel
Mobile: http://alkitab.mobi/tb/passage/Yoel


e-RH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
                Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
          Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria


Rabu, 12 September 2012


Diambil dari beberapa sumber kotbah dari dasar Firman Markus 8 : 27 - 38 


Introitus :
Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling
Kebelakang ( Yesaya 50:5 ).
Bacaan : Yesaya 50:4-9; Khotbah : Markus 8:27-38
Thema :
Tandailah Yesus dingen ikutkenlah
(Kenalilah Yesus dan ikutlah Dia)

Pendahuluan
Sebutir telur bias memiliki bermacam makna. Bagi seorang pengusaha,telur bisa berarti sumber atau komoditas ekonomi. Bagi seorang seniman, ia dapat melihat telur sebagai inspirasi bagi suatu karya seni. Bagi seorang telog, ia mungkin melihat ada Tuhan di balik telur tersebut, dan seterusnya. Tentu semua itu adalah benar sebab begitulah hakikat dan arti telur itu, tergantung dari mana orang melihatnya. Inilah yang disebut paradigm,persepsi atau sudut pandang.
Stephen R. Covey, pakar Amerika yang menulis bukuThe 7 Habits of Highly Effective People, mengatakan bahwa paradigma merupakan sumber dari sikap dan perilaku kita. Kita masing-masing cenderung berpikir bahwa kita melihat segala sesuatu sebagai mana adanya, bahwa kita sudah objektif. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Kita melihat duni bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya, atau sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya.
Bila sudut pandang kita luas, maka cakrawala kita pun luas. Bila cara pandang kita sempit, maka cakrawala kita pun sempit. Bila kita hanya terpaku pada satu teori, maka kita mudah menolak teori lainnya. Bila kita hanya setuju kepada satu opini, maka sulit bagi kita untuk membuka ruang bagi opini yang lain.
Demikian juga halnya dengan pengenalan kita terhadap Yesus, pengenalan yang benar mempengaruhi ketaatan kita untuk mengikuti dan melakukan kehendak Nya. Sejauh apakah kini pengenalan kita terhadap Yesus dan ketaatan kita dalam melakukan perintahNya ? Dari nats khotbah Markus 8:27-38, menjadi perenungan bagi kita kepada pernyataan Yesus tentang diriNya dan syarat-syarat mengikut Dia.

Pendalaman Nats
(ay.27-28) Ketika Yesus dan murid-muridNya berangkat ke Kaisarea Filipi, kira-kira 40 km di sebelah utara danau Galilea, Yesus bertanya tentang siapakah Dia menurut orang banyak. Ada yang mengatakan Yesus adalah Yohanes Pembabtis, Elia dan seorang dari para nabi ( Markus 1:4,6:14-15;Lukas9:7-8 ). Menurut mereka (pemahaman orang Yahudi), dengan kedatangan Yohanes Pembabtis,Elia dan seorang dari para nabi,maka Mesias tidak lama lagi akan datang. Tokoh ini dipercayai sebagai perintis jalan dan pembawa berita dari Mesias. Ia akan memulihkan pelanggaran dan membawa keteraturan di tengah kekacauan untuk menyiapkan jalan bagi Mesias. Menurut tanggapan orang banyak tersebut berarti Yesus bukanlah mesias,dan masih tetap menunggu kedatangan mesias. Pengenalan orang banyak tentang Yesus berarti keliru, dan hanya sebatas tanda mujijat membuat mereka datang mencari dan mengikut Yesus.

(ay.29-30) Menurut Petrus, Yesus adalah Mesias. Petrus mengakui bahwa Yesus adalah orang yang dipilih dan di urapi oleh Allah(Yoh.6:68-69). Kata “Mesias”berasal dari kata Ibrani yang berarti “yang diurapi”. Sama artinya dengan Kristus dalam bahasa Yunani” Christos”. Yang di urapi adalah para Imam(1 Taw.29:22), dan Nabi (Yes.61:1), yang paling sering disebut di urapi adalah Raja (1 Sam.10:1,16:1,13; Mas.2:2,7). Yang di urapi adalah seseorang yang di pilih untuk melayani Tuhan dan umatNya dan sebagai Raja, bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan damai Allah di dunia,yaitu menolong dan membebaskan korban ketidak adilan, khususnya orang miskin.(Mas.18:35-49,72:1-3: 9:9-10). Pengakuan Petrus akan Yesus adalah benar, sehingga dalam injil Matius, Petrus di beri hadiah “kunci kerajaan sorga”(Mat.16:19), tapi dalam injil Markus, Petrus dilarang untuk mengatakan kepada siapa pun bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus melarang para murid untuk mengatakannya, karena Yesus ingin agar orang banyak mengetahuinya melalui pengalaman mereka sendiri. Dan secara umum,orang banyak termasuk murid-murid juga di pengaruhi oleh gagasan-gagasan mesianik yang ada dalam benak orang Yahudi pada zaman Yesus. Gagasan itu penuh kekerasan dan semangat nasionalistik, sehingga Mesias itu di bayangkan sebagai seorang raja yang berasal dari garis keturunan Daud sebagai sosok adikodrati yang hebat yang masuk kedalam sejarah untuk menata kembali dunia dan kembali memulihkan umat Allah.

(ay.31-33) Yesus mengajarkan pengertian Mesias yang berbeda dari pemahaman orang banyak, bukan sebagai raja yang berkuasa, tapi sebagai anak manusia yang harus menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh dan bankit pada hari yang ketiga. Yesus sedang berbicara tentang penangkapan dan kematianNya di kayu salib dan Allah yang membangkitkanNya dari kematian. Petrus dan para murid tidak siap akan hal ini,mereka menginginkan seorang pemimpin yang akan membebaskan mereka dari kesakitan, bukan seorang yang mengalami kesakitan dan kematian. Petrus menarik dan menegor Yesus, kemudian Yesus berpaling serta memarahi Petrus,”enyahlah iblis’’. Yesus menggunakan kata yang keras untuk menegaskan bahwa menolak kehendak Allah merupakan pekerjaan iblis.

(ay.34-38) Menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus, artinya penurunan tahta diri(keinginan,kehendak dan hawa nafsu manusiawi), agar hidup hanya berpusat kepada Kristus. Dalam hubungan kita dengan Tuhan harus mengikutinya dengan memasrahkan diri kepada Tuhan dan menerima konsekwensi dan menanggung resiko terhadap penderitaan oleh karena panggilan sebagai murid atau orang percaya.(Yoh.15:19,Gal.6:14). Dan Yesus mengatakan tentang kehilangan nyawa, sebagai penyataan kesetiaan terhadap kehendak Allah, bukan perjuangan kepada sifatnya sementara tapi kekekalan. Pengajaran tentang persyaratan mengikut Yesus memang cukup keras dan tegas tapi hal itu bukan lah hal yang mustahil bagi orang percaya sebab Yesus membuat perjanjian yang pasti tentang kedatanganNya(8:38), dan kerajaanNya(9;1). Sekalipun penderitaan yang menanti namun nubuat Mesianis tentang pemerintahanNya akan mewujudnyatakan kemenangan keselamatan.

Pointer Aplikasi
  1. Pengenalan yang benar akan Yesus menentukan kesetiaan seseorang dalam mengikut dan melakukan kehendakNya.
  2. Mengikut Yesus dan melakukan kehendaknya berarti menyangkal diri dan memikul salib. Memberi diri untuk dibentuk, diubah seturut dengan kehendakNya.( Band.Bacaan Yesaya 50:4-9, Ketaatan seorang hamba Tuhan)
  3. Kapan dan dimana pun sebagai pengikut Yesus tidak ragu dan tidak malu menderita demi kebenaran dan keadilan.
  4. Kuasa dan kasih Yesus adalah menjadi jaminan penyertaan dan perlindungan bagi setiap orang yang melakukan panggilan Tuhan dalam hidup dan pelayanannya.(1 Kor.15:58) : “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah tegu, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekuruan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”
Runggun GBKP Tambun
Pdt.Terima Tarigan



Title: KHOTBAH MINGGU, 13 SEPTEMBER 2009 (TEMA: "ENGKAU ADALAH MESIAS"
Post by: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono on August 30, 2009, 08:40:37 AM


Renungan Minggu, 13 September 2009
Tahun B: Minggu Biasa XIX
Warna: Hijau
ENGKAU ADALAH MESIAS
Ams. 1:20-33; Mzm. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mark. 8:27-38


Pengantar
Harapan akan kedatangan Mesias sebenarnya tersebar di berbagai pelosok dunia.  Di Jawa juga mengenal harapan akan datangnya sang Ratu Adil yang dinyatakan dalam ramalan raja Jajabaya dari Kediri (tahun 1135-1157). Yang mana sang Ratu Adil tersebut disebut oleh raja Jayabaya sebagai Satria Piningit. Selain itu seorang tokoh pahlawan Indonesia yaitu Pangeran Diponegoro juga pernah menganggap dirinya sebagai Ratu Adil.  Dia menganggap mampu membebaskan rakyat Jawa dari penjajahan Belanda. Bahkan Soekarno, presiden pertama Indonesia waktu itu juga sering dianggap sebagai Ratu Adil. Namun ternyata sejarah membuktikan bahwa mereka gagal untuk menjadi seorang Ratu Adil. Di Israel, seorang rabi Yahudi yang sangat terkenal yakni rabi Akiba pernah menganggap tokoh Simeon Bar Kokhba sebagai raja Mesias karena dia memperlihatkan kemampuan yang hebat dalam melawan penjajahan Romawi pada tahun 132-135. Sampai kini umat Israel menolak Yesus Kristus sebagai Mesias. Alasan mereka adalah bahwa seorang Mesias harus memenuhi syarat sebagai berikut:
- Membangun Bait Allah yang ketiga (Yeh. 37:26-28)
- Mengumpulkan seluruh umat Yahudi dari seluruh pelosok dunia untuk kembali ke tanah
  Israel (Yes. 43:5-6)
- Penjaga suatu era dunia yang damai dan mengakhiri segala kebencian, penindasan,
   penderitaan dan penyakit (Yes. 2:4).
- Menyebarkan pengetahuan dan pengakuan akan Allah Israel yang menyatukan seluruh umat
   manusia dalam satu kesatuan (Zakh. 14:9).

Umat Yahudi masa kini beranggapan bahwa Yesus dari Nazaret tidak memenuhi keempat syarat tersebut. Sebab semasa hidupNya Yesus tidak pernah mewujudkan nubuat para nabi tersebut, seperti tidak pernah membangun Bait Allah, mengumpulkan seluruh umat Yahudi yang terpencar ke berbagai pelosok bumi, belum mewujudkan suatu kehidupan yang penuh damai dan menyebarkan pengakuan akan Allah yang menyatukan seluruh umat manusia. Syarat-syarat Mesias tersebut bagi orang-orang Yahudi harus terpenuhi pada saat seseorang yang dianggap Mesias tersebut hidup. Jadi mereka berharap bahwa sewaktu Yesus hidup sebagai manusia, Dia menunjukkan tanda-tanda tersebut. Jadi mereka menolak anggapan atau pengajaran bahwa semua syarat tersebut akan terpenuhi kelak pada masa kedatangan Yesus kembali pada akhir zaman. Kalau kita perhatikan dengan cermat, maka penafsiran ayat yang dianggap sebagai nubuat untuk menentukan kriteria seorang Mesias hanya dipahami dari sudut kepentingan nasionalisme Yahudi. Misalnya seseorang akan disebut sebagai Mesias Allah jikalau Dia berhasil membangun Bait Allah sebagai tempat berkumpulnya umat manusia dari segala bangsa (Yes. 37:26-28). Seseorang akan disebut Mesias apabila Dia mampu mengumpulkan umat Yahudi yang tercerai-berai dalam suatu negara yaitu untuk memenuhi nubuat Yes. 43:5-6. Kemudian menurut tafsiran Yes. 2:4, seseorang akan disebut Mesias apabila Dia mampu menjadi hakim bagi bangsa-bangsa sehingga mampu meniadakan seluruh persenjataan yang pernah dibuat. Juga menurut Zakh. 14:9, seseorang disebut sebagai Mesias jikalau Dia mampu menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan bagi seluruh umat manusia. Tepatnya menurut tafsiran mereka, Zakh. 14:9 menyatakan bahwa Mesias Yesus seharusnya mampu meniadakan setiap “allah” dari agama-agama yang ada. Sehingga jelaslah bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat Alkitab yang dianggap nubuat tersebut lebih dilatar-belakangi oleh harapan messianis yang sempit dan eksklusif. Segala sesuatu dari kriteria nubuat Alkitab tersebut hanya diarahkan kepada umat Israel sebagai satu-satunya pusat dari seluruh tindakan sang Mesias. Padahal Yesus Kristus mengarahkan karya keselamatanNya kepada seluruh umat manusia. Dia tidak menjadikan umat Israel sebagai satu-satunya umat Allah. Demikian pula halnya dengan makna pembangunan Bait Allah. Makna pembangunan Bait Allah dihayati oleh Yesus tidak bersifat fisik, tetapi secara rohaniah yakni tubuhNya sendiri.

Harapan Manusia Modern
Harapan manusia modern akan kehadiran seorang Messias pada masa kini tetap hidup. Yang mana harapan tersebut tidak pernah lekang oleh waktu. Hal ini disebabkan karena umat manusia pada masa kini berada dalam kesulitan yang semakin kompleks. Persoalan, penderitaan dan tragedi kemanusiaan tidak dapat diatasi oleh ilmu pengetahuan, medis, teknologi dan sistem negara. Manusia modern membutuhkan kehadiran dan peran seorang Mesias. Tepatnya manusia modern membutuhkan Juru-selamat. Karena itu beberapa waktu yang lalu muncul gambaran mesianis dalam film “Superman”. Ide mesianis tersebut ditampilkan dalam diri Christopher Reeve yang memerankan sebagai tokoh Superman.  Film “Superman” tahun 1978 tersebut disutradarai oleh Richard Donner. Yang mana tokoh Superman memiliki nama Kal-El  atau Clark Kent dan ayahnya bernama Jor-El yang tinggal di planet Krypton. Dari penamaan para tokoh tersebut telah dapat diduga bahwa nama “Kal-El” atau “Carl-El” menunjuk kepada diri Kristus. Sedang nama “Jor-El” menunjuk kepada “Jahweh” (Tuhan). Perhatikan nama “El” yang menunjuk kepada sebutan “Elohim” (Allah). Jor-El mengirim anak satu-satunya yaitu Kal-El ke bumi untuk membawa misi keselamatan.  Harapan mesianis manusia modern pada masa kini ditampilkan melalui “Cinematic Theology”. Itu sebabnya Paul Leggett dalam  "Science Fiction Films: A Cast of Metaphysical Characters." Christianity Today, 24(6), 32-33 tahun 1980 menyatakan: “Some have seen the Superman image as a substitute, pop image messiah. Yet the value of Superman is that he is a messianic symbol, as valid for our time as Charlemagne or Sir Galahad were in the medieval period. The symbol doesn't substitute as an alternate reality, but points to a greater reality, albeit one it never fully expresses”.  Demikian pula ide utama dalam film “Superman Return” yang disutradarai oleh Bryan Singe pada tahun 2006. Kisah yang difilmkan dalam “Superman Return” pada hakikatnya menunjuk kepada  tokoh Superman sebagai gambaran dari tokoh Kristus yang kembali berkarya. Namun gambaran mesianis dalam tokoh Superman tersebut tentu tidak selalu tepat mencerminkan maksud dari kesaksian Alkitab tentang diri Yesus sebagai Mesias (Kristus). Sebab untuk memenuhi kepentingan pasar tidak terelakkan penggambaran tokoh film dalam Superman sebagai diri Kristus dilibatkan dalam hubungan romantisme dan menunjukkan berbagai kekuatan fisiknya yang luar-biasa. 

Namun bukankah harapan mesianis umumnya selalu dikaitkan dengan tokoh atau pemimpin yang memiliki kemampuan yang hebat, bentuk fisik yang sempurna, dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia? Sangat menarik bahwa pada masa kini juga muncul upaya untuk menemukan ke-Mesias-an Yesus yang dihubungkan dengan tokoh tertentu. Misalnya mengaitkan tokoh Krishna sebagaimana dikisahkan dalam Mahābhārata,  Harivamsa, Bhagavata Purana dan  Wishnu Purana dengan diri Yesus dari Nazaret. Sebab selain nama mereka mirip (Krishna dan Kristus), juga mereka dianggap lahir dari seorang perawan. Mereka memiliki misi yang sama untuk membawa keselamatan bagi umat manusia. Yang mana keduanya bersifat ilahi. Namun sekali lagi penggambaran Krishna dengan Yesus Kristus tersebut sering mengabaikan perbedaan karakter dan pola  yang sangat esensial. Tokoh Krishna dalam menjalankan misi keselamatan terlibat dalam pemberian nasihat yang menguatkan tindakan kekerasan saat terjadi perang Bharatayudha.  Jadi tidak dapat begitu mudah kita menyatakan bahwa Yesus Kristus identik atau sebagai inkarnasi dari Krishna. Itu sebabnya Mahatma Gandhi menyampaikan pandangannya tentang Bhagavad Gita: “Untie any spiritual knot” (melonggarkan setiap simpul spiritual). Sebab kisah dalam Bhagavad Gita menampilkan berbagai kekerasan. Gandhi menyatakan: “The Gita affords violence a sort of mythic grandeur, obscuring the ugly realities of blood and gore with ethereal prose and metaphysical justifications”. Bukankah pada masa kini gambaran dan harapan tentang tokoh mesias tidak terlepas dari pola pikir yang duniawi, yaitu penyelesaian masalah dan penegakan keadilan dengan konsep dan pola-pola kekerasan yang dilegitimasi dengan “wahyu Allah” dan ayat-ayat Kitab Suci?

Ke-Mesias-an Yesus Karena MukjizatNya?
Struktur narasi Injil Markus sebelum mengisahkan pengakuan Petrus akan ke-Mesias-an Yesus  di Mark. 8:27-30 dilatar-belakangi oleh berbagai perbuatan mukjizatNya. Misalnya Mark. 6:30-44 mengisahkan Yesus memberi makan 5000 orang. Mark. 6:45-52 mengisahkan Yesus berjalan di atas air. Mark. 6:53-56 mengisahkan Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret. Mark. 7:31-37 mengisahkan Yesus menyembuhkan seorang tuli. Mark. 8:1-10 mengisahkan Yesus memberi makan 4000 orang. Mark. 8:22-26 mengisahkan Yesus menyembuhkan seorang buta di Betsaida. Namun saat para murid Yesus tiba di Kaisarea Filipi, Yesus mengajukan pertanyaan kepada para muridNya, yaitu: “Kata orang, siapakah Aku ini?” (Mark. 8:27). Pertanyaan Tuhan Yesus tersebut sepertinya suatu ajakan bagi para murid untuk merenungkan kembali seluruh karya keselamatan yang telah dinyatakanNya melalui berbagai perbuatan mukjizat. Karya-karya mukjizat Yesus terbukti mampu memulihkan setiap orang yang sakit, kuasaNya yang luar-biasa atas alam dan penggandaan roti bagi orang banyak. Tetapi bagaimana tanggapan orang banyak terhadap diri Yesus? Ternyata orang banyak menganggap Yesus Kristus hanya sebagai inkarnasi dari Yohanes Pembaptis yang telah mati dipancung oleh raja Herodes. Atau Yesus juga dianggap sebagai  seorang nabi Allah yang muncul dalam kehidupan mereka secara luar-biasa. Dengan perkataan lain, berbagai perbuatan mukjizat yang telah dilakukan oleh Yesus hanya dianggap oleh orang banyak sebagai tanda-tanda ilahi yang menyertai kehidupan seorang nabi Allah. Walaupun perbuatan mukjizat Yesus sangat spektakuler, namun orang banyak waktu itu menggolongkan diri Yesus sebagaimana yang pernah dilakukan oleh nabi Elia atau nabi Elisa.  Kekaguman orang banyak terhadap diri Yesus hanyalah sebatas kekaguman kepada seorang nabi Allah yang penuh kuasa.

Dari kesaksian Injil Markus tersebut terbukti bahwa perbuatan mukjizat tidaklah cukup membawa seseorang kepada sikap iman. Karena itu tidaklah benar secara teologis, kita menempatkan tanda-tanda mukjizat yang sifatnya serba spektakuler dalam proses pembangunan jemaat atau pembentukan karakter iman. Sejauh perbuatan suatu mukjizat belum menyentuh kehidupan pribadi seseorang yang paling dalam, maka perbuatan mukjizat tersebut hanya menimbulkan perasaan kagum belaka. Bahkan seandainya perbuatan mukjizat tersebut berhasil menyentuh kehidupan pribadi seseorang juga tidak menjamin bahwa dia mengalami pertobatan untuk mengakui ke-Tuhan-an Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya. Bukankah benar apa yang diajarkan oleh gereja bahwa sikap iman kepada Kristus pada hakikatnya tidak tergantung karena  pengalaman menerima mukjizat. Iman yang murni dan dianugerahkan oleh Allah lahir dari pengalaman berjumpa dengan Allah, bukan karena faktor mukjizat. Mungkin bisa terjadi seseorang mengalami beberapa pengalaman mukjizat, tetapi seluruh pengalaman tersebut tidak dihayati sebagai perjumpaannya dengan Kristus. Namun orang-orang Kristen yang hidup secara duniawi sering mengabaikan makna perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Sebab yang diutamakan oleh orang-orang dunia adalah hasil-hasil yang menguntungkan seperti: kesehatan, kesejahteraan materi dan kehidupan yang bebas dari persoalan. Padahal yang dikehendaki oleh Allah adalah perubahan sikap hidup atau pembaharuan hidup di dalam Kristus, sehingga mereka mampu menyikapi dan menyelesaikan setiap persoalan dari sudut pandang Allah.

Ke-Mesias-an Yesus Yang Bebas Dari Derita?

Di lubuk hati umat Israel sepanjang masa makna kehadiran seorang Mesias Allah tidak pernah lepas dari peran politisnya. Pemahaman ini dilatar-belakangi oleh situasi umat Israel yang senantiasa berada dalam penderitaan dan tekanan hidup dari para penjajahan bangsa asing. Itu sebabnya saat kerajaan Romawi menguasai mereka, berulangkali muncul orang-orang yang dianggap sebagai Mesias untuk membebaskan dari penindasan kerajaan Romawi. Umat Israel selalu mengharapkan kedatangan seorang Mesias Allah yang tangguh, tidak terkalahkan, agung dan mampu membawa mereka kepada kesejahteraan yang paripurna. Dengan demikian harapan mesianis umat Israel secara politis pada zaman itu merupakan harapan yang kontekstual. Sehingga manakala mereka menyaksikan betapa besar kuasa Yesus dalam membuat berbagai mukjizat, mereka segera memiliki harapan yang begitu besar kepada Yesus. Mereka  mengharapkan Yesus dari Nazaret mampu membebaskan mereka dari belenggu penjajahan bangsa Romawi dan membawa kesejahteraan umat Israel dengan kuasaNya yang mampu menaklukkan alam dan  menggandakan roti. Harapan tersebut juga tertanam dalam diri para murid Yesus. Namun bagai petir di siang hari, mereka terkejut saat Yesus menyatakan: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mark. 8:31). Mereka yang semula begitu terobsesi dan kagum dengan segala kuasa mukjizat Yesus, kini mereka mendengar suatu pernyataan  yang jauh dari harapan dan kerinduan mereka. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau Petrus segera memberi reaksi dengan menarik Yesus ke samping dan menegor Dia (Mark. 8:32). Sebab konsep mesianis yang mereka pahami adalah Mesias seperti Yesus tidak boleh sedikitpun menderita, ditolak oleh para pemimpin agama dan mati terbunuh. Kematian seorang yang dianggap Mesias akan membawa dampak yang begitu buruk dalam kehidupan umat Israel.

Namun sikap Petrus yang mewakili sikap para murid dan umat Israel pada umumnya justru dianggap oleh Yesus sebagai pola pikir dari Iblis. Di Mark. 8:33, Tuhan Yesus menegor Petrus, demikian: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia". Dengan pernyataan tersebut, Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa konsep mesianis mereka tidak sejalan dengan rencana dan pola pikir Allah. Tentunya Allah sangat memahami penderitaan mereka yang saat itu dijajah dan ditindas oleh bangsa Romawi. Tetapi penyelesaiannya bukanlah dengan perang dan tindakan kekerasan. Sepertinya umat Israel telah melupakan pola kerja Allah yang pernah membebaskan dari cengkeraman bangsa Mesir. Mereka keluar dari Mesir bukan karena mereka mampu menaklukan tentara dan kekuasaan Firaun dengan perang, tetapi melalui tangan Allah yang kuat.  Umat Israel dapat tetap eksis sebagai bangsa bukan karena  kekuatan dan kepandaian mereka. Di Ul. 9:4 Allah berfirman: “Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu”. Selain itu penyelesaian suatu penindasan dan penderitaan tidak pernah dapat diatasi dengan kekerasan dan perang. Sebab penyelesaian dengan kekerasan dan perang senantiasa melahirkan kekerasan yang baru dan perang yang lebih luas lagi. Pada waktu pemberontakan Bar Khoba pada tahun 132-135 terhadap kerajaan Romawi diperkirakan penduduk Israel yang mati mencapai jutaan orang, Bait Allah dihancurkan secara total, sebagian menjadi budak dan mereka yang selamat harus terpencar ke seluruh penjuru bumi.  Pemberontakan Bar Khoba sungguh berakhir tragis. Karena sejak  itu umat Israel kehilangan seluruh tanah dengan masa depan yang suram. Mereka menjadi Israel “diaspora” selama hampir 2 milenium!

Namun betapa sering dalam menghadapi berbagai persoalan hidup sehari-hari, kita cenderung menggunakan kekerasan. Penderitaan yang dialami dibalas dengan membuat orang lain lebih menderita. Sakit hati dibalas dengan menebar teror. Kelicikan dibalas dengan kelicikan.  Orang-orang yang berbeda pendapat dianggap sebagai musuh.  Apabila dia tidak mampu membalas, maka dia akan menghalalkan segala macam cara. Kalau perlu orang-orang yang demikian akan menggunakan tangan orang lain untuk menganiaya dan membunuh, atau juga dengan menghalalkan penggunaan ilmu “black-magic”. Hukum “mata ganti mata” dianggap sebagai penegakan keadilan dan kebenaran. Yang mana konsep tersebut kini justru dipraktekkan oleh orang-orang yang merasa  dirinya beragama. Semakin banyak orang yang dianggap kafir mati terbunuh, maka semakin besar pahalanya di surga. Konsep teologis tersebut telah menempatkan agama sebagai musuh kemanusiaan. Padahal siapapun yang menjadi musuh kemanusiaan, dia telah menjadi musuh Allah. Kini yang diperlukan umat manusia bukan sekedar pernyataan dan ajaran agama yang serba saleh, tetapi bukti. Umat manusia tidak lagi peduli dan mempercayai ayat-ayat Kitab Suci yang dianggap telah diwahyukan Allah apabila ternyata hanya membawa kesengsaraan dan kekejaman.

Ke-Mesias-an Yesus Sebagai Penyata Kasih
Ungkapan yang paling tepat untuk memahami ke-Mesias-an Yesus adalah konsep kemesiasan yang lahir dari penyataan Allah. Tolok ukur keMesiasan Yesus adalah dia bersedia untuk melakukan kehendak Allah melalui jalan pendamaian dan kasih. Untuk itu jalan yang Kristus tempuh adalah melalui penderitaan dan kematianNya sebagai kurban pendamaian bagi banyak orang. Kristus memahami diriNya sebagai Mesias  Allah dengan jalan memberikan hidupNya. Konsep mesianis inilah yang membedakan secara signifikan dengan konsep dan pola mesianis dari kuasa dunia. Sebab konsep mesianis dari kuasa dunia adalah halal menggunakan atau memanfaatkan orang lain sebagai korban. Keselamatan dan kesejahteraan umat dibangun di atas penderitaan orang lain. Mereka “menebus dosa” dengan jalan mencabut sebanyak mungkin nyawa orang lain yang dianggap musuh Allah atau kafir. Dengan demikian konsep mesianis secara duniawi selalu bersifat politis, ekonomis, ideologis dan menghalalkan kekerasan. Namun ironisnya para “mesias” tersebut selalu menyatakan bahwa tujuan dan misi mereka pada hakikatnya untuk membawa damai, mendatangkan rahmat, menghadirkan keadilan dan kesejaheraan bagi seluruh umat manusia. Mereka mencapai tujuan yang tampaknya suci dan benar dengan menghalalkan segala cara. Padahal esensi yang hakiki dari citra seorang Mesias Allah justru caraNya, yaitu jalan hidupNya yang suci dan benar. Karena hampir semua tokoh dunia yang jahat dan kejam juga mempunyai misi yang dianggapnya mulia. Mereka selalu menyatakan bahwa tindakan dan keputusan yang ditempuhnya bertujuan untuk kebaikan umat. Hitler juga merasa mempunyai tujuan dan misi yang mulia yaitu mengangkat Jerman sebagai bangsa Arya dengan cara/jalan membantai 6 juta orang Yahudi.

Ciri kepribadian seorang Mesias Allah dinyatakan melalui jalan hidupNya; bukan melalui pengajaran, doktrin atau ideologi rohaniah yang serba saleh. Sebab kepribadian seorang Mesias dinyatakan melalui cara yang ditempuh atau jalan hidupNya. Melalui cara atau jalan hidup yang ditempuhnya telah tergambar  bagaimana seluruh visi dan misinya yang paling utama. Karena itu jalan hidup yang telah ditempuh oleh Yesus telah menggambarkan seluruh hakikat pengajaran dan perbuatan kasihNya. Dengan demikian teologia dan etika iman Kristen bukan dibangun di atas dasar pengajaran dan perbuatan mukjizat Yesus. Tetapi teologia dan iman Kristen dibangun di atas dasar kehidupan Yesus Kristus yang suci dengan pengajaran dan perbuatan mukjizatNya. Seandainya kehidupan Yesus pernah bercela, maka seluruh pengajaran dan perbuatan mukjizatNya tidak berarti apa-apa bagi gereja dan umat manusia. Dengan demikian keotentikan keMesiasan Yesus ditentukan oleh kualitas hidupNya, yaitu pola kehidupanNya yang suci tanpa cela. Sehingga dengan kesucian hidup  Kristus yang begitu sempurna telah tergambar bagaimana hubungan dan kedudukan Dia secara khusus sebagai Anak Allah yang penuh kuasa. Itu sebabnya melalui kehidupan dan karya Kristus, kita dimampukan untuk melihat kehadiran dan pekerjaan Allah yang menyelamatkan dalam kehidupan umat manusia. Jika demikian, makna pengakuan iman kita kepada Yesus selaku Mesias seharusnya dinyatakan pula melalui jalan hidup kita. Apakah jalan hidup kita telah mengikuti pola jalan hidup Kristus?

Yang dikehendaki Kristus bagi setiap umat yang percaya kepadaNya adalah umat yang mampu membuktikan wujud dari jalan hidupNya yaitu kasih yang bersedia berkurban. Dalam hal ini Kristus tidak menghendaki kita menjadi para “pekabar Injil” yang sangat misioner dan berapi-api tetapi jalan hidup kita penuh dengan cela dan kelicikan. Berita Injil yang kita kabarkan haruslah menjadi suri-tauladan dan pola karakter dalam setiap aspek kehidupan kita. Rasul Yakobus berkata: “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yak. 3:2). Jadi melalui kehidupan dan perkataan kita yang tidak bercela, sesama dapat menyaksikan kehidupan dan karya Kristus yang menyelamatkan dan mendatangkan damai-sejahtera. Dengan pemahaman demikian, kita perlu segera menghentikan segala pola pengakuan iman yang verbalistis tetapi tidak dapat diwujudkan dalam perilaku yang nyata. Apa yang kita katakan haruslah lahir dari apa yang kita hayati dan imani dalam mengikuti Kristus sebagai satu-satunya jalan hidup kita.

Panggilan
Sebagaimana Kristus hidup, demikianlah kita hidup. Sebagaimana yang telah Kristus katakan, demikian pula seharusnya  isi dan kualitas perkataan dan pemikiran kita. Sebab apa yang kita katakan pada hakikatnya merupakan produk atau pancaran dari apa yang kita pikirkan dan isi spiritualitas kita. Rasul Yakobus berkata: “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (Yak. 3:9-10). Jika demikian, bagaimanakah isi dan kualitas perkataan atau pemikiran-pemikiran kita dalam kehidupan sehari-hari? Apakah yang kita katakan atau nyatakan merupakan konsep dan pola pikir mesianis-duniawi yang mengandalkan kekuatan diri sendiri, sikap yang sombong dan perilaku yang gemar mengorbankan orang lain? Jika sikap itu menjadi bagian dari hidup saudara, maka seluruh pengakuan iman saudara kepada Kristus menjadi tidak berarti apa-apa. Bahkan saudara telah menista keMesiasan Yesus Kristus selaku Juru-selamat dunia. Ataukah sebaliknya: apa yang kita katakan dan lakukan kepada sesama merupakan manifestasi dari karakter dan roh dari Kristus. Bagaimana sikap saudara saat ini? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com



Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 9 April 2008 –
Baca: Markus 8:31-38
“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Markus 8:38
Sebagai orang Kristen, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi terang dan garam dunia. Di mana pun berada ktia harus menjadi saksi hidup bagi Tuhan untuk menyaksikan kasih dan kemuliannNya bagi keselamatan dan pemulihan hidup manusia melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Tetapi, tidak semua orang menyambut berita damai itu dengan sukacita, sebaliknya sebagian besar orang tidak mengakui anugerah keselamatan di dalam Yesus, mereka bersikap sinis dan benci mendengarnya. Bahkan salib seringkali menjadi bahan ejekan dan olokan. Mereka meremehkan dan mencemooh para pemberita kabar keselamatan, tidak sedikit utusanNya yang menjadi korban aniaya karena salib tersebut!
Hal ini membawa dampak bagi orang-orang Kristen yang kurang memahami arti keselamatan yang telah dianugerahkan Allah baginya. Banyak anak Tuhan yang tidak tahan dengan kritikan dan ejekan, sehingga jangankan bersaksi tentang Kristus, membuka jati dirinya sebagai Kristen saja enggan dan malu. Mereka lebih suka menutup berita ini daripada mendapat malu, dibenci dan dikucilkan oleh keluarga, saudara, teman mau pun tetangga. Banyak yang kuatir kehilangan jabatan atau reputasi bila menyebut dirinya adalah pengikut Kristus; apalagi yang sudah menjadi public figure, rasa-rasanya nama Yesus menjadi penghalang bagi kemajuan karirnya, sehingga mereka takut mengakui Yesus Kristus di antara teman-teman seprofesinya.
Hanya orang-orang Kristen yang dipimpin Roh Kudus dan tahu berterima kasih yang tahan terhadap olokan dan sindiran, sebab umumnya orang tidak suka dicela atau dikritik apalagi jika merasa tidak bersalah. Seharusnya kita tidak malu bersakti tentang Kristus karena firman Tuhan berkata, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” (1 Petrus 4:14)
Bila kita malu menyaksikan nama Kristus di tengah dunia, maka Dia pun akan malu mengakui kita di hadapan Bapa di sorga!
kepedulian terhadap yang papa membuat Teresa untuk turun tangan sendiri mendampingi mereka, seberapa kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita akan semakin terbuka dengan melihat gambar ini...

Rabu, 13 April 2011




Kotbah Minggu Pra Paskah 6 (Palmarum),

Minggu, 17 April 2011











Bacaan I: Yesaya 50: 4-9a; Antar Bacaan: Mazmur 31: 10-17

Bacaan II: Filipi 2: 5-11; Bacaan III: Matius 21: 1-11



Tujuan

Agar jemaat baik sebagai individu maupun persekutuan dimampukan untuk mempunyai hati seorang hamba demi terwujudkan shalom di bumi ini.


Dasar Pemikiran

Di tengah arus dunia yang serba kompleks ini, kita diperhadapkan pada perbedaan pendapat, persaingan, ketidakharmonisan, bahkan kekerasan di mana-mana baik kekerasan fisik maupun psikis (melalui kata-kata dan sikap). Yang ironis adalah bahwa hal ini tidak hanya terjadi di luar gereja tetapi bahkan juga di dalam gereja. Semua ini dipertajam oleh kecenderungan manusia yang mengkotak-kotakkan diri dalam sekat-sekat golongan, status, pangkat, kehormatan dan kepentingan. Persoalan-persoalan kecil yang bisa diselesaikan dengan mudah kadang malah menjadi persoalan besar karena masing-masing mempertahankan bahkan menonjolkan kehormatan dan kepentingannya sendiri dan menganggap yang lain lebih rendah. Di tengah situasi yang semacam diperlukan manusia-manusia yang mempunyai hati seorang hamba.



TAFSIR

Yesaya 50:4-9a

Bagian ayat-ayat ini merupakan syair yang termasuk dalam rentetan "Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan" (40:1-9; 49:1-6; 50:4-11 dan 52:13-53:12). Meskipun di sini tidak disebutkan istilah "Hamba Tuhan" tetapi istilah "Murid" adalah sama dengan "Hamba Tuhan". Bentuk syair ini adalah doa keluhan perorangan yang memuat tiga unsur yaitu (1) keadaan pendoa di depan Allah (ay. 4-5a), (2) penderitaannya (ay. 5b-6), dan kepercayaannya kepada Allah yang akan membebaskan dia (ay. 7-9). Berbeda dengan syair-syair keluhan dalam Mazmur, syair ini tidak memuat teriakan minta tolong.

Ayat 4 menunjukkan bahwa Hamba Tuhan itu kini dididik menjadi murid Tuhan. Arti kata "murid" (bhs. Ibrani: "limudin", berasal dari kata kerja "lamad" yang mempunyai arti belajar, membiasakan) tidak menekankan belajar secara intelektual tetapi lebih pada belajar melatih sikap dan kecakapannya. Kemampuannya menjadi murid ini datang dari Tuhan dan Tuhan memberinya lidah seorang murid yang memampukannya untuk memberi semangat kepada orang yang letih lesu. Sikap murid yang seperti ini disatu sisi mendatangkan kebaikan bagi sekelompok orang tapi di sisi lain mendatangkan sikap perlawanan dari kelompok lain. Ayat 5b-6 menggambarkan bagaimana Hamba Tuhan itu menghadapi perlawanan itu. Ia rela, tabah dan setia menanggung penderitaan yang muncul dari perlawanan itu (dihukum, dihina, dipermalukan) dan sikapnya itu diambil secara sadar olehnya karena ia percaya bahwa Tuhan akan menolongnya. Ia yakin bahwa Tuhan Sang Maha Adil akan membenarkan dia yang telah berjalan sesuai FirmanNya.


Mazmur 31: 10-17

Bagian ini menggambarkan keadaan Pemazmur yang sangat menyedihkan dan teriakannya meminta pertolongan Tuhan. Ia merasa sedih, merana, sangat lemah dan merasa disingkirkan oleh orang-orang di sekitarnya karena penderitaan yang dialaminya. Tapi ia percaya kepada Tuhan, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan memohon pertolongan dan keselamatan yang dari Tuhan.


Filipi 2: 5-11

Rasul Paulus menasihatkan kepada jemaat di Filipi agar mereka merendahkan diri dan saling melayani karena untuk tugas itulah Kristus telah memilih dan mengumpulkan mereka sebagai jemaatNya. Pelayanan itu harus mereka lakukan menurut pola yang Kristus telah berikan kepada mereka, yaitu pola hidup sebagai hamba, sebagai pelayan. Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, bahkan Ia adalah Allah sendiri, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Kristus dengan sadar rela kehilangan kebesaran dan kemuliaanNya sebagai Allah. Tidak hanya sampai di situ saja, Ia bahkan merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib.

Pengajaran Rasul Paulus ini hendak menegur praktik dalam jemaat di Filipi yang membeda-bedakan manusia menurut golongan, tingkat kehormatan, tingkat hak dan kepentingan masing-masing individu. Dengan pernyataan dalam ayat 9-11, Paulus hendak mengatakan bahwa justru dengan sikap yang diambil Yesus itu, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama diatas segala nama.


Matius 21: 1-11

Peristiwa yang disebutkan dalam perikop ini terjadi pada waktu orang-orang Yahudi berarakan menuju ke Yerusalem untuk merayakan pesta Paskah Perjanjian Lama yaitu pesta peringatan akan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Dalam peziarahan dari Yerikho ke Yerusalem yang memakan waktu sekurang-kurangnya tujuh jam itu muncullah percakapan-percakapan tentang siapakah Yesus. Mereka mempercakapkan apakah Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi ataukah yang lainnya. Pengharapan bahwa Yesus adalah pahlawan yang akan berperang dengan senjata kemenangan untuk mengalahkan bangsa Romawi menjadi begitu kuat dalam arakan peziarahan itu karena mereka pada saat itu juga sedang mengenang peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir.

Di tengah-tengah situasi yang semacam itu, Yesus yang tidak biasanya bertindak „demonstratif", saat ini ia melakukannya. Ia mengendarai seekor keledai muda dan diarak oleh para murid dan orang banyak pada saat itu. Dengan tindakanNya ini Yesus hendak menunjukkan bahwa Ia adalah Mesias, yang datang dengan lemah lembut dan dengan mengendarai seekor keledai, bukan dengan mengendarai kuda, yang selalu dipakai dalam perang. Yesus tidak datang dengan kekuatan senjata melainkan dengan tindakan kasih. Ia menyatakan kepada banyak orang bahwa Ia adalah Raja Israel, Raja Damai yang memberitakan damai kepada bangsa-bangsa (Za. 9:9,10).

Dengan tindakanNya yang berani ini, Yesus hendak menentang para pemimpin Israel yang tidak mengakuiNya sebagai Mesias. Ia juga berani menentang orang-orang Israel yang ingin agar Ia membasmi orang Romawi.



Kotbah Jangkep


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Dalam kehidupan bersama dimanapun kita berada, juga dalam kehidupan berjemaat, seringkali muncul perbedaan pendapat, ketidakharmonisan, konflik bahkan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis. Ini semua terjadi karena perbedaan pendapat, perbedaan harapan, persaingan dan ketidakcocokan dalam hal-hal kecil yang tidak diselesaikan dengan baik. Orang kadang mempunyai kecenderungan untuk menyimpan dan seakan mengabaikan persoalan yang ada, padahal hal itu bisa menjadi api dalam sekam. Atau, kadang ada orang-orang yang menyelesaikan dengan cara main kuasa atau dengan kekerasan (psikis atau fisik). Orang merasa bahwa ia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain, atau lebih tua dari yang lain atau lebih kaya dari yang lain atau lebih berpengalaman dari yang lain. Akibatnya maka seringkali terjadi bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi bahkan justru menjadi lebih buruk.

Kita dapat melihat gejala yang demikian itu dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya dalam kehidupan rumah tangga, di kantor, di kampung atau di dalam gereja. Orang tua seringkali menempatkan diri lebih tinggi dari anak-anak, suami atau istri menempatkan lebih tinggi dari pasangannya, majelis menempatkan diri lebih tinggi dari warga jemaatnya atau dari remaja pemuda, atau pemuda senior menempatkan diri lebih tinggi dari yuniornya, dll.


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

saat ini kita diingatkan akan apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini demi terwujudnya shalom, damai sejahtera di bumi. Siapapun kita, apapun kedudukan, status, jabatan dan pendidikan kita, kita dipanggil untuk mempunyai hati seorang hamba karena hal itulah yang dikehendaki oleh Tuhan kita.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, hati seorang hamba yang bagaimanakah yang harus kita punyai? Dan mengapa harus demikian? Bagaimanakah caranya agar kita bisa tetap memiliki hati seorang hamba?


Saudara-saudara,

Tuhan Yesus telah memberikan teladan tentang hati seorang hamba. Filipi 2:5-11 menyebutkan bahwa seorang hamba adalah seorang yang mau merendahkan diri, mau melayani, lebih suka memberi daripada menuntut. Kata "merendahkan diri" di sini tidak berarti membuat diri menjadi minder (rendah diri) melainkan memposisikan diri dalam posisi yang lebih rendah dalam rangka menjadi sama posisinya dengan sesamanya, dan tidak merasa lebih tinggi atau terhormat dari yang lainnya.

Kita sebagai anak-anak Tuhan kadang melupakan teladan Tuhan Yesus ini. Kadangkala kita membiarkan diri menyerupai dunia ini. Kalau dunia melanggengkan adanya perbedaan posisi/kedudukan, status, pendidikan, kehormatan bahkan kepentingan, seringkali gereja juga mempraktekkan hal yang sama. Sehingga tak pelak, situasi kehidupan berjemaat juga tidak berbeda dengan situasi di luar gereja. Persoalan-persoalan yang kadangkala sepele menjadi rumit karena orang melihat orang lain lebih rendah dari dirinya sehingga apapun yang disampaikan oleh orang lain selalu dianggap tidak bermutu, bahkan kadangkala tidak di dengar baik-baik karena sudah apriori terhadap orang yang sedang berbicara. Padahal siapapun orangnya, apapun keberadaannya, apapun pendidikan dan pangkatnya bisa pada suatu saat berkata benar dan baik, tapi di saat yang lain, bisa sebaliknya. Oleh karena itu dibutuhkan untuk saling merendah dalam rangka mendengar dan menghargai satu terhadap yang lainnya.

Hal ini menjadi sangat penting ketika manusia menghadapi perbedaan pendapat, harapan yang tak terpenuhi oleh orang lain, ketidakharmonisan, bahkan percekcokan yang besar. Ketika manusia menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain, maka hal itu akan memperburuk keadaan. Persoalan yang sebetulnya bisa dipecahkan dengan jalan mencari jalan keluar bersama-sama, bisa menjadi pemaksaan kehendak dari seseorang kepada yang lainnya. Bahkan bisa jadi hal itu memungkinkan munculnya kekerasan psikis (melalui kata-kata kasar, kata-kata yang merendahkan orang lain, bahkan caci maki), atau kekerasan fisik.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Siapapun kita, entah itu yang merasa tua, atau banyak pengalaman, atau sebagai ibu atau ayah, atau sebagai suami atau istri, dll., marilah kita meneladan apa yang dilakukan Tuhan Yesus ini. Terutama orang tua yang mempunyai anak-anak remaja dan pemuda, mari buanglah sikap angkuh dan mau selalu mengatur apa saja yang dilakukan oleh anak-anak kita. Mereka telah berproses dan menjadi manusia dewasa. Sudah selayaknya kalau sebagai orang tua merendahkan diri kita untuk menjadi sesama, menjadi teman bagi anak-anak kita.

Kepemimpinan gerejawi juga seharusnya diwarnai hati seorang hamba. Yang mau menempatkan diri sama bagi yang lain, mau mendengar aspirasi dan kerinduan dari yang lain, dari remaja pemuda bahkan dari anak-anak sekalipun. Kepemimpinan yang mempunyai telinga, yang tidak hanya menengadahkan telinganya ke atas tetapi juga ke samping dan ke bawah. Dengan kepemimpinan yang berhati hamba maka gereja akan dapat membenahi diri karena ia mau mendengar dan mempertimbangkan apa yang disuarakan oleh warga jemaat. Tentu semua ini dilakukan dalam dialog dengan Dia Sang Raja Gereja. Yang terpenting dalam hal ini adalah kerelaan untuk merendahkan diri. Siapapun kita, entah yang punya gaji lebih besar, atau lebih pandai dan berpengalaman, marilah kita mau melihat, menghargai dan menerima apa yang disampaikan oleh orang lain.


Kemudian kalau ditanya: Mengapa kita harus mempunyai hati seorang hamba?

Jawabnya adalah karena hal itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan Yesus sendiri memproklamirkan diri sebagai Mesias yang rendah hati, yang anti kekerasan, yang memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Ia tahu bahwa orang Israel, yang waktu itu bersama-sama dengan Dia dalam perarakan menuju ke Yerusalem untuk merayakan Paskah Perjanjian Lama (yaitu perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir), mempercakapkan tentang siapakah Dia, apakah Dia adalah Penyelamat, Mesias yang dijanjikan Tuhan yang dengan gagah perkasa mampu membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Mereka yang di hari-hari sebelumnya telah melihat dan mengalami perbuatan-perbuatan Yesus yang luar biasa, dimana Yesus menyembuhkan orang sakit dan melakukan mukjijat-mukjijat yang luar biasa, sangat berharap bahwa Yesus juga akan melakukan mukjizat dan perbuatan yang luar biasa untuk mengalahkan bangsa Romawi. Harapan akan datangnya Mesias, Raja Israel yang penuh kemenangan itu semakin mengental dalam perarakan itu karena orang-orang pada saat itu sedang mengenang peristiwa pembebasan bangsa mereka dari penjajahan bangsa Mesir. Oleh karena itu mereka pada saat itu menyambut Yesus sebagai seorang Raja yang agung dengan cara menghamparkan pakaian mereka di jalan yang dilalui Yesus dan menghiasi jalan itu dengan ranting-ranting dari pohon-pohon. Mereka pada saat itu sangat antusias sekali dan berseru: „Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang mahatinggi! (ay. 9). Suatu seruan yang menunjukkan harapan dan keyakinan yang besar akan datangnya Sang Pembebas!

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Dalam situasi yang semacam itu, Yesus berani tampil beda. Ia berani menunjukkan bahwa Ia datang bukan sebagai Mesias yang berperang dengan senjata untuk melawan bangsa Romawi, tetapi sebagai Mesias yang membawa perdamaian, Mesias yang rendah hati. Hal ini Ia tunjukkan dengan mengendarai seekor keledai muda, bukan dengan mengendarai kuda yang selalu dipakai dalam perang. Ia ingin menunjukkan bahwa Ia datang bukan dengan kekuatan senjata melainkan dengan tindakan kasih.

Saudara,

dunia tidak membutuhkan keangkuhan karena sudah banyak keangkuhan di dunia ini. Dunia membutuhkan kerendahan hati seorang hamba seperti yang ditunjukkan oleh Yesus, seorang hamba yang mendatangkan damai, hamba yang berani dan mampu menunjukkan identitasnya di tengah dunia yang berbeda dengan dirinya. Dunia membutuhkan damai itu. Shalom, damai sejahtera, keharmonisan bisa dicapai kalau manusia mempunyai kerendahan hati. Ketinggian hati, apalagi kekerasan, hanya memperkeruh suasana, dan mengkikis damai yang ada.


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

kadang mudah untuk mempunyai hati seorang hamba, tetapi kadang juga atau bahkan seringkali tidak mudah bahkan teramat sulit untuk setia mempertahankan hati sebagai hamba ini. Hal ini menjadi sulit ketika orang menghadapi tantangan, hambatan, tekanan, ejekan dan bahkan direndahkan atau dipermalukan, seperti yang dialami oleh Hamba Tuhan di Yesaya 50 dan Mazmur 31. Tetapi kalau kita setia dan bertekun untuk memelihara hati seorang hamba maka hal itu akan membuahkan berkat baik bagi diri kita dengan bertambahnya hikmat kita maupun bagi orang lain. Selain itu Rasul Paulus juga menyaksikan bahwa akan ada saatnya bahwa Tuhan akan meninggikan manusia kalau manusia setia menjalani hidup sebagai hamba. Manusia boleh dan bisa merendahkan orang lain, tapi Tuhan Sang Keadilan tahu semuanya dan akan meninggikan hamba-hambaNya yang setia dan bertekun pada saatnya. Firman Tuhan dalam Filipi 2: 8-9 mengatakan: "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Selanjutnya dikatakan: "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama."

Saudara,

berkaitan dengan hal ini, kita diingatkan akan pepatah Jawa yang mengatakan "Becik ketitik ala ketara" yang artinya "yang baik akan muncul ke permukaan, sedangkan yang buruk akan kelihatan". Apapun tantangan yang kita hadapi dalam menjalani panggilan untuk mempunyai hati seorang hamba, betapapun tantangan itu besar bahkan seakan menutupi kebaikan yang kita lakukan, tapi kita yakin bahwa kebenaran akan menang, kebusukan akan tercium, dan apa yang baik akan mendapatkan tempatnya yang tepat.


Lalu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimanakah caranya agar dapat tetap memiliki hati seorang hamba?

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap kita, siapapun kita, adalah Hamba Tuhan. Hamba yang diutus untuk melakukan pekerjaan Tuhan, menyampaikan kabar baik, kabar sukacita dan damai sejahtera dimanapun kita berada. Lalu bagaimanakah caranya agar kita dapat tetap memiliki hati seorang hamba?

Yesaya 50:4-9a mengajak kita untuk menyadari bahwa kita adalah Hamba Tuhan yang sekaligus "murid". Istilah "murid", yang bahasa Ibraninya "limudin", berasal dari kata kerja "lamad" yang mempunyai arti belajar, membiasakan. Kata ini tidak menekankan aspek intelektual (seperti yang terjadi di sekolah) tetapi lebih pada latihan dalam hal sikap atau kepandaian (kecakapan dalam bidang tertentu). Ini berarti bahwa kita bisa memelihara hati seorang hamba dalam diri kita kalau kita mau membiasakan dan melatihnya terus-menerus. Kalau dalam latihan itu kita menghadapi tantangan dan hambatan, maka kita bisa berkeluh kesah kepada Tuhan, menyampaikan apa yang kita alami kepadaNya. Dalam hal ini keterbukaan dan dialog dengan Tuhan, yang telah mengutus kita untuk menjadi hamba, dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk tetap mempunyai hati seorang hamba. Ini bisa dilihat dalam Yes. 50: 4-9a dan Maz. 31: 10-14. Selain itu kita perlu sungguh-sungguh yakin dan percaya atas penugasan yang diberikan kepada kita dan percaya kepada Tuhan yang memberikan tugas itu. Kita diingatkan bahwa tumpuan kekuatan, kelegaan dan kelepasan adalah Tuhan sendiri (Maz. 31: 15,17).

Menjadi Hamba Tuhan memang tidaklah mudah seperti yang terungkap dalam Maz. 31: 10-13. Di tengah-tengah penderitaan yg dapat muncul sebagai konsekwensi dari kesetiaan yang kita lakukan ketika kita mempunyai hati seorang hamba, kita diajak untuk senantiasa yakin bahwa Tuhan Maha Adil dan kebenaran tidaklah akan pernah tersembunyi.

Di Minggu Palmarum ini kita diajak untuk memiliki hati seorang hamba, meneladan Dia, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Juru Selamat Dunia, amin.


MH


Rabu, 24 Juni 2009

Suasana Nyaman yang Berbahaya

Bacaan : 1 Raja-raja 4:21-34
Setahun: 2 Raja-raja 23-25
Nats: Maka Salomo berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai
      Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas
      Mesir. Mereka menyampaikan upeti dan tetap takluk kepada Salomo
      seumur hidupnya (1 Raja-raja 4:21)

Judul:
                        BAHAYA KENYAMANAN

Pa, Kezia ketabrak!" telepon istri saya bagai petir di siang bolong.
Saya sedang mengetik di rumah. Tidak berpikir dua kali, saya segera
lari ke bawah.. Lift terasa lama sekali. Saya pakai tangga. Apartemen
kami di lantai lima. Saya langsung menuju jalan raya. Kezia, anak
pertama kami, sedang digendong oleh istri saya di pinggir jalan. Puji
Tuhan Kezia tidak sampai kenapa-kenapa. Hanya memar kecil di kaki.
Sempat menginap di rumah sakit semalam untuk observasi, terus boleh
pulang.

Kami belum lama tinggal di Singapura. Tempat tinggal kami jauh dari
pusat kota. Lalu lintas di sini relatif teratur dan tenang. Kalau
siang hari agak lengang. Karena merasa aman kami jadi suka ceroboh
kalau menyeberang jalan. Begitu turun dari bus anak-anak biasa
menyeberang sendiri. Sampai terjadilah kecelakaan itu.

Di tengah kenyamanan kerap kita menjadi lalai. Tidak heran kecelakaan
justru banyak terjadi di jalan tol. Begitu juga yang terjadi pada
bangsa Israel pada masa pemerintahan Raja Salomo. Pada masa itu,
Israel tengah berada di puncak kejayaan, situasi aman dan damai.
Mereka menjadi lalai, membiarkan pengaruh buruk dari luar merasuki
kehidupan mereka. Salomo sendiri jatuh ke dalam penyembahan berhala
(1 Raja-raja 11:1-13). Dari sanalah awal perpecahan bangsa itu,
sampai kemudian mereka dibuang ke Babel.

Pesan buat kita, dalam situasi aman dan damai, ketika hidup kita
mulus dan nyaman, tetaplah berpaut kepada Tuhan. Jangan lalai --AYA

                    HATI-HATI DENGAN KENYAMANAN
              SALAH-SALAH, KITA JUSTRU BISA DIGILASNYA


Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!

Rabu, 03 Juni 2009

SEDIKIT TENTANG PERBANKAN SYARIAH

Sekarang ini berkembang perbankan syariah, bagaimana sebenarnya tentang

Perbankan syariah itu sendiri, berikut sedit uraian tentang hal-hal umum tentang

perbankan syariah :

 

Perbankan syariah dikembangkan atas dasar yang tidak mengijinkan pemisahan

antara masalah dunia dan masalah agama. Dasar tersebut mengharuskan

kepatuhan terhadap syariah sebagai dasar bagi semua aspek kehidupan. Dasar

138

itu tidak hanya mencakup ibadah saja, tetapi juga meliputi transaksi bisnis yang

harus sesuai dengan prinsip syariah. Misalnya, salah satu aspek yang paling

menonjol dari prinsip-prinsip syariah adalah pelarangan riba dan persepsi

mengenai uang sebagai alat tukar dan sarana untuk membayar kewajiban

keuangan, bukan komoditas.

Uang berdasarkan prinsip syariah tidak mempunyai sisi time value terlepas dari

nilai-nilai barang yang dipertukarkan melalui penggunaan uang, sesuai dengan

syariah. Oleh karena itu bank syariah didirikan berdasarkan konsep Islam

mengenai "keuntungan adalah bagi siapa yang menanggung resiko."

Beradasarkan konsep ini, bank syariah menolak (mengusahakan tidak

menggunakan) penggunaan bunga dalam setiap transaksinya.

Adiwarman Karim ("Modul: Warkshop on Islamic banking", 2003 : 6)

menggolongkan transaksi-transaksi yang saat ini biasa dilakukan oleh bank

syariah terdiri atas:

a. Natural incertaintycontracts, yaitu kontrak atau akad dalam bisnis perbankan

yang tidak memberikan kepastian pendapatan (return), baik dari segi

jumlah (amount) maupun waktunya (time). Tingkat return bisa positif,

negative, atau nol. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrakkontrak

investasi atau Musyarakah (partnership, project financing participation),

yaitu akad dua pihak atau lebih untuk suatu usaha dimana masing-masing

pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan

dan resiko akan ditanggung bersama sesuai perjanjian (M. Syafei Antoni,

2001 : 90). Jenis kontrak Musyarakah dalam bank syariah terbagi atas:

(1) Musyarakah Mufawadhah, yaitu jenis musyarakah dimana bank

memberikan pembiayaan sebesar 50% dari jumlah modal yang

dibutuhkan nasabah, dan bank turut serta dalam mengelola

(manajemen) usaha, sehingga setiap kerugian dan keuntungan akan

dibagi sama rata.

(2) Musyarakah Inan, yaitu jenis musyarakah, dimana bank memberikan

pembiayaan kepada suatu proyek nasabah, namun besarnya

pembiayaan tidak tepat 50% dari kebutuhan dana, akan tetapi bisa

melebihi atau malah kurang tergantung pada kebutuhan nasabah.

Biasanya Bank memberikan pembiayaan kurang dari 50%, sehingga

besarnya proporsi pembagian keuntungan tergantung pada

kesepakatan dan pertanggungan kerugian tergantung pada proporsi

modal yang disetor bank.

139

(3) Musyarakah Mudharabah. Jenis kontrak inilah yang banyak dilakukan

oleh bank syariah, baik dalam hal pembiayaan. Secara teknis,

mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana

pihak pertama (shohibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal,

sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola (mudharib). Keuntungan

usaha secara mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang dituangkan

dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal

selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola (Syafi'I Antoni,

2001 : 95). Dalam hal ini simpanan, kontrak mudharabah ini berarti pihak

nasabah menyediakan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito

untuk dikelola oleh bank sehingga menghasilkan keuntungan. Apabila

bank memperoleh keuntungan (laba) operasional maka pihak deposan

berhak memperoleh bagian laba tersebut (profit sharing). Namun untuk

mengantisipasi kecurangan (moral hazard) dunia perbankan terhadap

kontrak i9ni, maka berdasarkan perkembangan terakhir yang dibagi

kepada nasabah bukanlah laba (profit) yang diperoleh bank, akan tetapi

pendapatan (revenue) bank atas kegiatan operasional, dan setiap biaya

yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional tersebut sepenuhnya

ditanggung oleh bank, sehingga apabila bank tidak memperoleh

pendapatan sekalipun, saldo rekening nasabah tidak akan berkurang.

Demikian pula halnya dengan pemberian pembiayaan, untuk

mengantisipasi moral hazard nasabah (debitur), bank memberlakukan

kontrak revenue sharing dalam hal perolehan pendapatan bank dan

semua biaya proyek ditanggung oleh debitur yang bersangkutan,

sehingga bank tidak mengalami kehilangan dana meskipun proyek

yang dijalankan merugi.

Secara umum, sebenarnya kontrak musyarakah masih terdapat dua

jenis lagi yaitu jenis Musyarakah wujuh dan musyarakah 'abdan. Akan

tetapi yang biasa dilakukan oleh dunia perbankan adalah ketiga jenis

musyarakah di atas.



Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya.