|
Kotbah Minggu Pra Paskah 6 (Palmarum), Minggu, 17 April 2011
Bacaan I: Yesaya 50: 4-9a; Antar Bacaan: Mazmur 31: 10-17 Bacaan II: Filipi 2: 5-11; Bacaan III: Matius 21: 1-11
Tujuan Agar jemaat baik sebagai individu maupun persekutuan dimampukan untuk mempunyai hati seorang hamba demi terwujudkan shalom di bumi ini.
Dasar Pemikiran Di tengah arus dunia yang serba kompleks ini, kita diperhadapkan pada perbedaan pendapat, persaingan, ketidakharmonisan, bahkan kekerasan di mana-mana baik kekerasan fisik maupun psikis (melalui kata-kata dan sikap). Yang ironis adalah bahwa hal ini tidak hanya terjadi di luar gereja tetapi bahkan juga di dalam gereja. Semua ini dipertajam oleh kecenderungan manusia yang mengkotak-kotakkan diri dalam sekat-sekat golongan, status, pangkat, kehormatan dan kepentingan. Persoalan-persoalan kecil yang bisa diselesaikan dengan mudah kadang malah menjadi persoalan besar karena masing-masing mempertahankan bahkan menonjolkan kehormatan dan kepentingannya sendiri dan menganggap yang lain lebih rendah. Di tengah situasi yang semacam diperlukan manusia-manusia yang mempunyai hati seorang hamba.
TAFSIR Yesaya 50:4-9a Bagian ayat-ayat ini merupakan syair yang termasuk dalam rentetan "Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan" (40:1-9; 49:1-6; 50:4-11 dan 52:13-53:12). Meskipun di sini tidak disebutkan istilah "Hamba Tuhan" tetapi istilah "Murid" adalah sama dengan "Hamba Tuhan". Bentuk syair ini adalah doa keluhan perorangan yang memuat tiga unsur yaitu (1) keadaan pendoa di depan Allah (ay. 4-5a), (2) penderitaannya (ay. 5b-6), dan kepercayaannya kepada Allah yang akan membebaskan dia (ay. 7-9). Berbeda dengan syair-syair keluhan dalam Mazmur, syair ini tidak memuat teriakan minta tolong. Ayat 4 menunjukkan bahwa Hamba Tuhan itu kini dididik menjadi murid Tuhan. Arti kata "murid" (bhs. Ibrani: "limudin", berasal dari kata kerja "lamad" yang mempunyai arti belajar, membiasakan) tidak menekankan belajar secara intelektual tetapi lebih pada belajar melatih sikap dan kecakapannya. Kemampuannya menjadi murid ini datang dari Tuhan dan Tuhan memberinya lidah seorang murid yang memampukannya untuk memberi semangat kepada orang yang letih lesu. Sikap murid yang seperti ini disatu sisi mendatangkan kebaikan bagi sekelompok orang tapi di sisi lain mendatangkan sikap perlawanan dari kelompok lain. Ayat 5b-6 menggambarkan bagaimana Hamba Tuhan itu menghadapi perlawanan itu. Ia rela, tabah dan setia menanggung penderitaan yang muncul dari perlawanan itu (dihukum, dihina, dipermalukan) dan sikapnya itu diambil secara sadar olehnya karena ia percaya bahwa Tuhan akan menolongnya. Ia yakin bahwa Tuhan Sang Maha Adil akan membenarkan dia yang telah berjalan sesuai FirmanNya.
Mazmur 31: 10-17 Bagian ini menggambarkan keadaan Pemazmur yang sangat menyedihkan dan teriakannya meminta pertolongan Tuhan. Ia merasa sedih, merana, sangat lemah dan merasa disingkirkan oleh orang-orang di sekitarnya karena penderitaan yang dialaminya. Tapi ia percaya kepada Tuhan, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan memohon pertolongan dan keselamatan yang dari Tuhan.
Filipi 2: 5-11 Rasul Paulus menasihatkan kepada jemaat di Filipi agar mereka merendahkan diri dan saling melayani karena untuk tugas itulah Kristus telah memilih dan mengumpulkan mereka sebagai jemaatNya. Pelayanan itu harus mereka lakukan menurut pola yang Kristus telah berikan kepada mereka, yaitu pola hidup sebagai hamba, sebagai pelayan. Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, bahkan Ia adalah Allah sendiri, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Kristus dengan sadar rela kehilangan kebesaran dan kemuliaanNya sebagai Allah. Tidak hanya sampai di situ saja, Ia bahkan merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib. Pengajaran Rasul Paulus ini hendak menegur praktik dalam jemaat di Filipi yang membeda-bedakan manusia menurut golongan, tingkat kehormatan, tingkat hak dan kepentingan masing-masing individu. Dengan pernyataan dalam ayat 9-11, Paulus hendak mengatakan bahwa justru dengan sikap yang diambil Yesus itu, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama diatas segala nama.
Matius 21: 1-11 Peristiwa yang disebutkan dalam perikop ini terjadi pada waktu orang-orang Yahudi berarakan menuju ke Yerusalem untuk merayakan pesta Paskah Perjanjian Lama yaitu pesta peringatan akan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Dalam peziarahan dari Yerikho ke Yerusalem yang memakan waktu sekurang-kurangnya tujuh jam itu muncullah percakapan-percakapan tentang siapakah Yesus. Mereka mempercakapkan apakah Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi ataukah yang lainnya. Pengharapan bahwa Yesus adalah pahlawan yang akan berperang dengan senjata kemenangan untuk mengalahkan bangsa Romawi menjadi begitu kuat dalam arakan peziarahan itu karena mereka pada saat itu juga sedang mengenang peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Di tengah-tengah situasi yang semacam itu, Yesus yang tidak biasanya bertindak „demonstratif", saat ini ia melakukannya. Ia mengendarai seekor keledai muda dan diarak oleh para murid dan orang banyak pada saat itu. Dengan tindakanNya ini Yesus hendak menunjukkan bahwa Ia adalah Mesias, yang datang dengan lemah lembut dan dengan mengendarai seekor keledai, bukan dengan mengendarai kuda, yang selalu dipakai dalam perang. Yesus tidak datang dengan kekuatan senjata melainkan dengan tindakan kasih. Ia menyatakan kepada banyak orang bahwa Ia adalah Raja Israel, Raja Damai yang memberitakan damai kepada bangsa-bangsa (Za. 9:9,10). Dengan tindakanNya yang berani ini, Yesus hendak menentang para pemimpin Israel yang tidak mengakuiNya sebagai Mesias. Ia juga berani menentang orang-orang Israel yang ingin agar Ia membasmi orang Romawi.
Kotbah Jangkep
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan bersama dimanapun kita berada, juga dalam kehidupan berjemaat, seringkali muncul perbedaan pendapat, ketidakharmonisan, konflik bahkan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis. Ini semua terjadi karena perbedaan pendapat, perbedaan harapan, persaingan dan ketidakcocokan dalam hal-hal kecil yang tidak diselesaikan dengan baik. Orang kadang mempunyai kecenderungan untuk menyimpan dan seakan mengabaikan persoalan yang ada, padahal hal itu bisa menjadi api dalam sekam. Atau, kadang ada orang-orang yang menyelesaikan dengan cara main kuasa atau dengan kekerasan (psikis atau fisik). Orang merasa bahwa ia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain, atau lebih tua dari yang lain atau lebih kaya dari yang lain atau lebih berpengalaman dari yang lain. Akibatnya maka seringkali terjadi bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi bahkan justru menjadi lebih buruk. Kita dapat melihat gejala yang demikian itu dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya dalam kehidupan rumah tangga, di kantor, di kampung atau di dalam gereja. Orang tua seringkali menempatkan diri lebih tinggi dari anak-anak, suami atau istri menempatkan lebih tinggi dari pasangannya, majelis menempatkan diri lebih tinggi dari warga jemaatnya atau dari remaja pemuda, atau pemuda senior menempatkan diri lebih tinggi dari yuniornya, dll.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, saat ini kita diingatkan akan apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini demi terwujudnya shalom, damai sejahtera di bumi. Siapapun kita, apapun kedudukan, status, jabatan dan pendidikan kita, kita dipanggil untuk mempunyai hati seorang hamba karena hal itulah yang dikehendaki oleh Tuhan kita. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, hati seorang hamba yang bagaimanakah yang harus kita punyai? Dan mengapa harus demikian? Bagaimanakah caranya agar kita bisa tetap memiliki hati seorang hamba?
Saudara-saudara, Tuhan Yesus telah memberikan teladan tentang hati seorang hamba. Filipi 2:5-11 menyebutkan bahwa seorang hamba adalah seorang yang mau merendahkan diri, mau melayani, lebih suka memberi daripada menuntut. Kata "merendahkan diri" di sini tidak berarti membuat diri menjadi minder (rendah diri) melainkan memposisikan diri dalam posisi yang lebih rendah dalam rangka menjadi sama posisinya dengan sesamanya, dan tidak merasa lebih tinggi atau terhormat dari yang lainnya. Kita sebagai anak-anak Tuhan kadang melupakan teladan Tuhan Yesus ini. Kadangkala kita membiarkan diri menyerupai dunia ini. Kalau dunia melanggengkan adanya perbedaan posisi/kedudukan, status, pendidikan, kehormatan bahkan kepentingan, seringkali gereja juga mempraktekkan hal yang sama. Sehingga tak pelak, situasi kehidupan berjemaat juga tidak berbeda dengan situasi di luar gereja. Persoalan-persoalan yang kadangkala sepele menjadi rumit karena orang melihat orang lain lebih rendah dari dirinya sehingga apapun yang disampaikan oleh orang lain selalu dianggap tidak bermutu, bahkan kadangkala tidak di dengar baik-baik karena sudah apriori terhadap orang yang sedang berbicara. Padahal siapapun orangnya, apapun keberadaannya, apapun pendidikan dan pangkatnya bisa pada suatu saat berkata benar dan baik, tapi di saat yang lain, bisa sebaliknya. Oleh karena itu dibutuhkan untuk saling merendah dalam rangka mendengar dan menghargai satu terhadap yang lainnya. Hal ini menjadi sangat penting ketika manusia menghadapi perbedaan pendapat, harapan yang tak terpenuhi oleh orang lain, ketidakharmonisan, bahkan percekcokan yang besar. Ketika manusia menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain, maka hal itu akan memperburuk keadaan. Persoalan yang sebetulnya bisa dipecahkan dengan jalan mencari jalan keluar bersama-sama, bisa menjadi pemaksaan kehendak dari seseorang kepada yang lainnya. Bahkan bisa jadi hal itu memungkinkan munculnya kekerasan psikis (melalui kata-kata kasar, kata-kata yang merendahkan orang lain, bahkan caci maki), atau kekerasan fisik. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Siapapun kita, entah itu yang merasa tua, atau banyak pengalaman, atau sebagai ibu atau ayah, atau sebagai suami atau istri, dll., marilah kita meneladan apa yang dilakukan Tuhan Yesus ini. Terutama orang tua yang mempunyai anak-anak remaja dan pemuda, mari buanglah sikap angkuh dan mau selalu mengatur apa saja yang dilakukan oleh anak-anak kita. Mereka telah berproses dan menjadi manusia dewasa. Sudah selayaknya kalau sebagai orang tua merendahkan diri kita untuk menjadi sesama, menjadi teman bagi anak-anak kita. Kepemimpinan gerejawi juga seharusnya diwarnai hati seorang hamba. Yang mau menempatkan diri sama bagi yang lain, mau mendengar aspirasi dan kerinduan dari yang lain, dari remaja pemuda bahkan dari anak-anak sekalipun. Kepemimpinan yang mempunyai telinga, yang tidak hanya menengadahkan telinganya ke atas tetapi juga ke samping dan ke bawah. Dengan kepemimpinan yang berhati hamba maka gereja akan dapat membenahi diri karena ia mau mendengar dan mempertimbangkan apa yang disuarakan oleh warga jemaat. Tentu semua ini dilakukan dalam dialog dengan Dia Sang Raja Gereja. Yang terpenting dalam hal ini adalah kerelaan untuk merendahkan diri. Siapapun kita, entah yang punya gaji lebih besar, atau lebih pandai dan berpengalaman, marilah kita mau melihat, menghargai dan menerima apa yang disampaikan oleh orang lain.
Kemudian kalau ditanya: Mengapa kita harus mempunyai hati seorang hamba? Jawabnya adalah karena hal itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan Yesus sendiri memproklamirkan diri sebagai Mesias yang rendah hati, yang anti kekerasan, yang memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Ia tahu bahwa orang Israel, yang waktu itu bersama-sama dengan Dia dalam perarakan menuju ke Yerusalem untuk merayakan Paskah Perjanjian Lama (yaitu perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir), mempercakapkan tentang siapakah Dia, apakah Dia adalah Penyelamat, Mesias yang dijanjikan Tuhan yang dengan gagah perkasa mampu membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Mereka yang di hari-hari sebelumnya telah melihat dan mengalami perbuatan-perbuatan Yesus yang luar biasa, dimana Yesus menyembuhkan orang sakit dan melakukan mukjijat-mukjijat yang luar biasa, sangat berharap bahwa Yesus juga akan melakukan mukjizat dan perbuatan yang luar biasa untuk mengalahkan bangsa Romawi. Harapan akan datangnya Mesias, Raja Israel yang penuh kemenangan itu semakin mengental dalam perarakan itu karena orang-orang pada saat itu sedang mengenang peristiwa pembebasan bangsa mereka dari penjajahan bangsa Mesir. Oleh karena itu mereka pada saat itu menyambut Yesus sebagai seorang Raja yang agung dengan cara menghamparkan pakaian mereka di jalan yang dilalui Yesus dan menghiasi jalan itu dengan ranting-ranting dari pohon-pohon. Mereka pada saat itu sangat antusias sekali dan berseru: „Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang mahatinggi! (ay. 9). Suatu seruan yang menunjukkan harapan dan keyakinan yang besar akan datangnya Sang Pembebas! Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam situasi yang semacam itu, Yesus berani tampil beda. Ia berani menunjukkan bahwa Ia datang bukan sebagai Mesias yang berperang dengan senjata untuk melawan bangsa Romawi, tetapi sebagai Mesias yang membawa perdamaian, Mesias yang rendah hati. Hal ini Ia tunjukkan dengan mengendarai seekor keledai muda, bukan dengan mengendarai kuda yang selalu dipakai dalam perang. Ia ingin menunjukkan bahwa Ia datang bukan dengan kekuatan senjata melainkan dengan tindakan kasih. Saudara, dunia tidak membutuhkan keangkuhan karena sudah banyak keangkuhan di dunia ini. Dunia membutuhkan kerendahan hati seorang hamba seperti yang ditunjukkan oleh Yesus, seorang hamba yang mendatangkan damai, hamba yang berani dan mampu menunjukkan identitasnya di tengah dunia yang berbeda dengan dirinya. Dunia membutuhkan damai itu. Shalom, damai sejahtera, keharmonisan bisa dicapai kalau manusia mempunyai kerendahan hati. Ketinggian hati, apalagi kekerasan, hanya memperkeruh suasana, dan mengkikis damai yang ada.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kadang mudah untuk mempunyai hati seorang hamba, tetapi kadang juga atau bahkan seringkali tidak mudah bahkan teramat sulit untuk setia mempertahankan hati sebagai hamba ini. Hal ini menjadi sulit ketika orang menghadapi tantangan, hambatan, tekanan, ejekan dan bahkan direndahkan atau dipermalukan, seperti yang dialami oleh Hamba Tuhan di Yesaya 50 dan Mazmur 31. Tetapi kalau kita setia dan bertekun untuk memelihara hati seorang hamba maka hal itu akan membuahkan berkat baik bagi diri kita dengan bertambahnya hikmat kita maupun bagi orang lain. Selain itu Rasul Paulus juga menyaksikan bahwa akan ada saatnya bahwa Tuhan akan meninggikan manusia kalau manusia setia menjalani hidup sebagai hamba. Manusia boleh dan bisa merendahkan orang lain, tapi Tuhan Sang Keadilan tahu semuanya dan akan meninggikan hamba-hambaNya yang setia dan bertekun pada saatnya. Firman Tuhan dalam Filipi 2: 8-9 mengatakan: "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Selanjutnya dikatakan: "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama." Saudara, berkaitan dengan hal ini, kita diingatkan akan pepatah Jawa yang mengatakan "Becik ketitik ala ketara" yang artinya "yang baik akan muncul ke permukaan, sedangkan yang buruk akan kelihatan". Apapun tantangan yang kita hadapi dalam menjalani panggilan untuk mempunyai hati seorang hamba, betapapun tantangan itu besar bahkan seakan menutupi kebaikan yang kita lakukan, tapi kita yakin bahwa kebenaran akan menang, kebusukan akan tercium, dan apa yang baik akan mendapatkan tempatnya yang tepat.
Lalu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimanakah caranya agar dapat tetap memiliki hati seorang hamba? Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap kita, siapapun kita, adalah Hamba Tuhan. Hamba yang diutus untuk melakukan pekerjaan Tuhan, menyampaikan kabar baik, kabar sukacita dan damai sejahtera dimanapun kita berada. Lalu bagaimanakah caranya agar kita dapat tetap memiliki hati seorang hamba? Yesaya 50:4-9a mengajak kita untuk menyadari bahwa kita adalah Hamba Tuhan yang sekaligus "murid". Istilah "murid", yang bahasa Ibraninya "limudin", berasal dari kata kerja "lamad" yang mempunyai arti belajar, membiasakan. Kata ini tidak menekankan aspek intelektual (seperti yang terjadi di sekolah) tetapi lebih pada latihan dalam hal sikap atau kepandaian (kecakapan dalam bidang tertentu). Ini berarti bahwa kita bisa memelihara hati seorang hamba dalam diri kita kalau kita mau membiasakan dan melatihnya terus-menerus. Kalau dalam latihan itu kita menghadapi tantangan dan hambatan, maka kita bisa berkeluh kesah kepada Tuhan, menyampaikan apa yang kita alami kepadaNya. Dalam hal ini keterbukaan dan dialog dengan Tuhan, yang telah mengutus kita untuk menjadi hamba, dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk tetap mempunyai hati seorang hamba. Ini bisa dilihat dalam Yes. 50: 4-9a dan Maz. 31: 10-14. Selain itu kita perlu sungguh-sungguh yakin dan percaya atas penugasan yang diberikan kepada kita dan percaya kepada Tuhan yang memberikan tugas itu. Kita diingatkan bahwa tumpuan kekuatan, kelegaan dan kelepasan adalah Tuhan sendiri (Maz. 31: 15,17). Menjadi Hamba Tuhan memang tidaklah mudah seperti yang terungkap dalam Maz. 31: 10-13. Di tengah-tengah penderitaan yg dapat muncul sebagai konsekwensi dari kesetiaan yang kita lakukan ketika kita mempunyai hati seorang hamba, kita diajak untuk senantiasa yakin bahwa Tuhan Maha Adil dan kebenaran tidaklah akan pernah tersembunyi. Di Minggu Palmarum ini kita diajak untuk memiliki hati seorang hamba, meneladan Dia, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Juru Selamat Dunia, amin.
MH
|
Kasih Allah begitu nyata kepada kita manusia, meskipun sering sekali tak kita sadarinya, namun meskipun manusia tak ingat, Allah tetap akan mengasihi, dengan kasih tulus iklas.
Rabu, 13 April 2011
Rabu, 24 Juni 2009
Suasana Nyaman yang Berbahaya
Setahun: 2 Raja-raja 23-25
Nats: Maka Salomo berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai
Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas
Mesir. Mereka menyampaikan upeti dan tetap takluk kepada Salomo
seumur hidupnya (1 Raja-raja 4:21)
Judul:
BAHAYA KENYAMANAN
Pa, Kezia ketabrak!" telepon istri saya bagai petir di siang bolong.
Saya sedang mengetik di rumah. Tidak berpikir dua kali, saya segera
lari ke bawah.. Lift terasa lama sekali. Saya pakai tangga. Apartemen
kami di lantai lima. Saya langsung menuju jalan raya. Kezia, anak
pertama kami, sedang digendong oleh istri saya di pinggir jalan. Puji
Tuhan Kezia tidak sampai kenapa-kenapa. Hanya memar kecil di kaki.
Sempat menginap di rumah sakit semalam untuk observasi, terus boleh
pulang.
Kami belum lama tinggal di Singapura. Tempat tinggal kami jauh dari
pusat kota. Lalu lintas di sini relatif teratur dan tenang. Kalau
siang hari agak lengang. Karena merasa aman kami jadi suka ceroboh
kalau menyeberang jalan. Begitu turun dari bus anak-anak biasa
menyeberang sendiri. Sampai terjadilah kecelakaan itu.
Di tengah kenyamanan kerap kita menjadi lalai. Tidak heran kecelakaan
justru banyak terjadi di jalan tol. Begitu juga yang terjadi pada
bangsa Israel pada masa pemerintahan Raja Salomo. Pada masa itu,
Israel tengah berada di puncak kejayaan, situasi aman dan damai.
Mereka menjadi lalai, membiarkan pengaruh buruk dari luar merasuki
kehidupan mereka. Salomo sendiri jatuh ke dalam penyembahan berhala
(1 Raja-raja 11:1-13). Dari sanalah awal perpecahan bangsa itu,
sampai kemudian mereka dibuang ke Babel.
Pesan buat kita, dalam situasi aman dan damai, ketika hidup kita
mulus dan nyaman, tetaplah berpaut kepada Tuhan. Jangan lalai --AYA
HATI-HATI DENGAN KENYAMANAN
SALAH-SALAH, KITA JUSTRU BISA DIGILASNYA
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
Rabu, 03 Juni 2009
SEDIKIT TENTANG PERBANKAN SYARIAH
Sekarang ini berkembang perbankan syariah, bagaimana sebenarnya tentang
Perbankan syariah itu sendiri, berikut sedit uraian tentang hal-hal umum tentang
perbankan syariah :
Perbankan syariah dikembangkan atas dasar yang tidak mengijinkan pemisahan
antara masalah dunia dan masalah agama. Dasar tersebut mengharuskan
kepatuhan terhadap syariah sebagai dasar bagi semua aspek kehidupan. Dasar
138
itu tidak hanya mencakup ibadah saja, tetapi juga meliputi transaksi bisnis yang
harus sesuai dengan prinsip syariah. Misalnya, salah satu aspek yang paling
menonjol dari prinsip-prinsip syariah adalah pelarangan riba dan persepsi
mengenai uang sebagai alat tukar dan sarana untuk membayar kewajiban
keuangan, bukan komoditas.
Uang berdasarkan prinsip syariah tidak mempunyai sisi
time value terlepas darinilai-nilai barang yang dipertukarkan melalui penggunaan uang, sesuai dengan
syariah. Oleh karena itu bank syariah didirikan berdasarkan konsep Islam
mengenai "keuntungan adalah bagi siapa yang menanggung resiko."
Beradasarkan konsep ini, bank syariah menolak (mengusahakan tidak
menggunakan) penggunaan bunga dalam setiap transaksinya.
Adiwarman Karim ("Modul: Warkshop on Islamic banking", 2003 : 6)
menggolongkan transaksi-transaksi yang saat ini biasa dilakukan oleh bank
syariah terdiri atas:
a.
Natural incertaintycontracts, yaitu kontrak atau akad dalam bisnis perbankanyang tidak memberikan kepastian pendapatan
(return), baik dari segijumlah
(amount) maupun waktunya (time). Tingkat return bisa positif,negative, atau nol. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrakkontrak
investasi atau
Musyarakah (partnership, project financing participation),yaitu akad dua pihak atau lebih untuk suatu usaha dimana masing-masing
pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan
dan resiko akan ditanggung bersama sesuai perjanjian (M. Syafei Antoni,
2001 : 90). Jenis kontrak
Musyarakah dalam bank syariah terbagi atas:(1)
Musyarakah Mufawadhah, yaitu jenis musyarakah dimana bankmemberikan pembiayaan sebesar 50% dari jumlah modal yang
dibutuhkan nasabah, dan bank turut serta dalam mengelola
(manajemen) usaha, sehingga setiap kerugian dan keuntungan akan
dibagi sama rata.
(2)
Musyarakah Inan, yaitu jenis musyarakah, dimana bank memberikanpembiayaan kepada suatu proyek nasabah, namun besarnya
pembiayaan tidak tepat 50% dari kebutuhan dana, akan tetapi bisa
melebihi atau malah kurang tergantung pada kebutuhan nasabah.
Biasanya Bank memberikan pembiayaan kurang dari 50%, sehingga
besarnya proporsi pembagian keuntungan tergantung pada
kesepakatan dan pertanggungan kerugian tergantung pada proporsi
modal yang disetor bank.
139
(3)
Musyarakah Mudharabah. Jenis kontrak inilah yang banyak dilakukanoleh bank syariah, baik dalam hal pembiayaan. Secara teknis,
mudharabah
adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimanapihak pertama
(shohibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal,sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola
(mudharib). Keuntunganusaha secara
mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang dituangkandalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal
selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola (Syafi'I Antoni,
2001 : 95). Dalam hal ini simpanan, kontrak
mudharabah ini berarti pihaknasabah menyediakan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito
untuk dikelola oleh bank sehingga menghasilkan keuntungan. Apabila
bank memperoleh keuntungan (laba) operasional maka pihak deposan
berhak memperoleh bagian laba tersebut
(profit sharing). Namun untukmengantisipasi kecurangan
(moral hazard) dunia perbankan terhadapkontrak i9ni, maka berdasarkan perkembangan terakhir yang dibagi
kepada nasabah bukanlah laba
(profit) yang diperoleh bank, akan tetapipendapatan
(revenue) bank atas kegiatan operasional, dan setiap biayayang dikeluarkan untuk kegiatan operasional tersebut sepenuhnya
ditanggung oleh bank, sehingga apabila bank tidak memperoleh
pendapatan sekalipun, saldo rekening nasabah tidak akan berkurang.
Demikian pula halnya dengan pemberian pembiayaan, untuk
mengantisipasi
moral hazard nasabah (debitur), bank memberlakukankontrak
revenue sharing dalam hal perolehan pendapatan bank dansemua biaya proyek ditanggung oleh debitur yang bersangkutan,
sehingga bank tidak mengalami kehilangan dana meskipun proyek
yang dijalankan merugi.
Secara umum, sebenarnya kontrak musyarakah masih terdapat dua
jenis lagi yaitu jenis
Musyarakah wujuh dan musyarakah 'abdan. Akantetapi yang biasa dilakukan oleh dunia perbankan adalah ketiga jenis
musyarakah
di atas.Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya.
Selasa, 02 Juni 2009
"Nyanyian Burung dan Pepohonan"
http://biroperekonomian.jawatengah.go.id/download/
Ketika gerimis turun langit tertutup kabut?
Bersiul memilukan, berderai menikam mendung
Suara laut pun sirna, terbang entah ke mana
Dan di saat yang lain kala mentari bangkit
menyiram jagat raya kicaunya pun ceria
Bersama semilir angin mengalirlah semangat
Kecipak air kali menyegarkan jiwa
Oh, betapa jauhnya jalan terjal kutempuh
menembus kegelapan, menyibak alang-alang
Oh, murai bernyanyilah mengiringi langkahku
Wajah bumi semakin renta dan penuh luka
Pernahkah engkau dengar nyanyian pepohonan
di tengah belantara sepi menembus kelam?
Kelak tinggal catatan, di sini pernah berdiri
tegar menyengga langit, kini tinggal puing
Selamat menyelamatkan bumi
Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya.
Kamis, 28 Mei 2009
LUPA DARI KUBURAN
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya;
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya;
Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya;
Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya;
C A minor D minor ke G ke;
C lagi A minor D minor ke G ke;
C lagi A minor D minor ke G ke;
C lagi;
Back to [*] [**]
C A minor D minor Ke G ke;
C lagi A minor Demi moore ke C;
Ke C lagi D minor ke G ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi A minor D minor Ke G Ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi;
Nah abis dari C kita kemana nih
Sudahlah kita ke C lagi saja (ke C lagi) jangan pusing-pusing;
Tau nih kayaknya ke C lagi aja (ke C lagi) jangan ngikutin teruslah;
Berantakan ini yang dapet (ke C lagi;
Ey yang bener udahlah ganti ini;
Ke C lagi ke c lagi (ke C minoor;
Lirik'>http://liriklaguindonesia.net/k/kuburan/kuburan-lupa-lupa-ingat/">Lirik href="download'>http://downloadlaguindonesia.net/downloadmp3terbaru/">download
MP3 Kuburan - Lupa-Lupa Ingat;
Bidston Syukur MPP Bpk. Hadi Nugroho
Rabu, 27 Mei 2009
facebookku
Selasa, 26 Mei 2009
Bidston Pernikahan Putri/putra Pak Bintarto, 22-5-2009
Setahun: Mazmur 127-129
Nats: Berfirmanlah Tuhan kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah
perempuan yang suka bersundal dan berzina, seperti Tuhan juga
mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada
allah-allah lain dan menyukai kue kismis." (Hosea 3:1)
Judul:
TAHU DIRI
Pendeta GKJ Cilacap Utara, Semuel S.Si. dalam renungan bidston
ia seorang pelacur, apakah Anda bersedia menikah dengannya?
Pertanyaan yang sulit dijawab! Apa nanti kata keluarga? Bagaimana
jika ia kembali pada hidupnya yang lama? Kalau sekarang ia melacurkan
dirinya, bukankah kelak itu bisa saja terulang? Dan pertanyaan yang
paling mendasar adalah, pantaskah ia saya cintai?
Jawabnya memang tidak pantas! Namun, itulah yang diperintahkan Tuhan
kepada Hosea.. Gomer adalah seorang pelacur bakti di kuil penyembahan
berhala. Hosea mau menikahinya; ini seharusnya sudah cukup membuat
Gomer tahu diri sebagai istri. Namun, Gomer malah berzina kembali dan
melarikan diri dengan kekasihnya (Hosea 2:6). Lalu ia terdampar di
pasar budak. Tuhan meminta Hosea membelinya kembali seharga kurang
lebih 200 ribu rupiah (Hosea 3:2). Lebih hebat lagi, Hosea harus
mengampuni dan menerimanya kembali sebagai istri tercinta (Hosea
3:1). Sungguh luar biasa ungkapan kasih yang dituntut Tuhan dari
Hosea.
Kisah Hosea adalah kisah Tuhan yang mengasihi manusia. Gomer adalah
gambaran Israel yang tidak tahu diri; yang berzina rohani dengan
menyembah berhala. Gomer juga merupakan gambaran kita. Sebagai orang
berdosa, kita tidak layak diampuni dan dijadikan anak Tuhan. Namun,
setelah ditebus dan dijadikan anak-Nya, kita masih berbuat dosa dan
menyakiti hati-Nya. Akan tetapi, Tuhan selalu bersedia mengampuni dan
menerima kita kembali sebagai anak yang Dia kasihi. Sebab itu, jangan
bermain-main dengan dosa. Kasih-Nya yang besar seharusnya membuat
kita semakin tahu diri dan hidup taat kepada-Nya setiap hari --DBS
KASIH KARUNIA DIBERIKAN MELAMPAUI KETIDAKTAATAN KITA
AGAR KITA TERDORONG UNTUK TERUS SETIA DI HADAPAN-nYA